Puisi HMJ PBSI di Koran Tangsel Pos Edisi 30 September-1 Oktober 2017

Oktober 09, 2017



Bising
Karya Nurul Ardiyani*
Tik...tok...
Tik...tok...
Berputar tanpa henti
Berkeliling tiada akhir

Terlupakan
Terabaikan
Teracuhkan
Terintimidasi

Hai jiwa-jiwa penuh obsesi!
Hilang akal hanya karena suatu posisi
Padahal kepala belum kau isi
Tak peduli dengan segala konsekuensi

Ah, memang sudah saatnya ini terjadi
Segala macam hiruk-pikuk harus dilalui
Bermacam problematika harus dikuasai
Inilah hidup penuh dengan ambisi

*Nurul Ardiyani adalah Sekretaris Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.






Kini Aku Kembali
Karya Rizki Ramadhan*

Kala jemari hening tanpa belaian dan elusan
mengeja tiap bayangan dalam ruang masa lalu
tak henti berpikir bersua bernostalgia
mengaum merangsang meracun lini kehidupan
lagi dan lagi bayang-bayang setia dipenghabisan
tanpa jawaban dan kepastian

Lampau,
kita beriringan berdampingan bersama hirupi kehidupan
menjalin tiap sentuhan tanpa beban-beban yang memberatkan
perjalanan yang membuat kebahagian tak ternilai
membuat raga berarti
membuat hati kokoh tak tertandingi

Insaf,
aku sadar setelah ku menggila
berontak dari makna cinta yang sesungguhnya
menghilang dan sirna dalam berkasih sayang
diam tanpa tindakan yang berperasaan
tanpa permisi tanpa salam yang diucap
aku menodai hati, merobek relungnya

Memperbaiki,
kini aku kembali

Jakarta, 6 Mei 2017


Mana Janji Manismu
Karya : Rizki Ramadhan*

Tanya itu adalah hak
Tapi jawabannya hanya diangan
Bicara sedikit tak didengar
Bicara banyak malah diabaikan

Kau bilang terbuka kan kau lakukan
Setiap waktu kau kan kabarkan
Lisanmu membuatku terpukau
Tapi kau malah selalu berkicau

Dahulu kau bilang tak ada penindasan
Dahulu kau bilang tak ada kekerasan
Tapi sekarang kau hilang kesabaran
Kau hancurkan tanpa henti bangunan-bangunan

Mereka tertindas walau tak diam
Mereka tak berdaya nan diterkam
Luka mereka semakin dalam
Hingga mengadu ke penjuru alam

Kau bilang hukum harus ditegakkan
Tak pandang bulu untuk diterapkan
Pionirmu akan slalu terselamatkan
Biar salah pun pasti kan aman

Bicara pangan itu hal lumrah
Dari yang mahal hingga yang murah
Terlampau lama dan tak terjangkau
Dari pelosok hingga ke pulau

Mana janji yang terucap manis
Kau biarkan pelantun negeri semakin miris
Raga dan jiwa semakin teriris
Hingga langit dan bumi ikut menangis

Janji manismu memanglah manis
Biarpun manis tetaplah janji
Jika dahulu memanglah manis
Sekarang hilanglah manisnya janji
 

*Rizki Ramadhan adalah Bendahara Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.







Potret Bahasaku
Karya Dinita Ayu Novela*
Apakah kau dengar rintihan, nak?
Saat bahasa kita bergejolak
Alunan isu-isu membengkak
Tertahan ngilu di tepian zaman

Bahasa kita terikat mati
Terkungkung arus globalisasi
Keberadaannya yang kekal
Ternyata tak juga abadi

Eksistensinya mulai terkikis
Saham gengsi penggunanya makin sejati
Entah malu ataukah lesu
Bahasa kita menunduk di peraduannya
Sementara sang garuda
Hanya bisa meneteskan air mata

*Dinita Ayu Novela adalah Ketua Departemen Kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.








Gila
Karya Rizky A. Imansyah*

Dunia fana ini semakin menggila
Semua orang haus akan harta
Yang kaya semakin kaya
Yang miskin semakin miskin

Manusia diperkuda oleh jabatan
Demi kebahagiaan sementara
Manusia di ciptakan untuk berbagi, katanya
Namun apa yang terjadi? malah sikut sana, sikut sini

Entah sampai kapan peristiwa ini akan terjadi
Saya berharap segera terwujudnya Pancasila dari sila ke lima
Yang berisi "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia"
Semoga!

Rempoa Raya, 20 Mei 2017

* Rizky A. Imansyah adalah anggota Departemen Bahasa dan Sastra Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.







Antara Cinta dan Politik
Karya Nur Siswo Dipurnomo*

Citra politik di negeri kaya
Mencuat penderitaan rakyat miskin
Tertawa lepas autokrat di singgasana
Tetes peluh petani menjatuhi tanah subur
Ingar bingar negeri ini akan politik
Hasut dusta di ujung timur hingga barat
Tak kunjung rampung demagogi lawan-lawannya
Balada negeri sudah miris
Kaum rendah merintih menangis
Panggung utama jadi perebutan
Kini pun sang aktor lupa akan haluannya
Mencintai dan menyejahterakan rakyat
Di tanah air yang kaya raya ini

*Nur Siswo Dipurnomo adalah anggota Departemen Keagamaan dan Pengabdian Masyarakat Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Previous
Next Post »
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

Tidak ada komentar