Buah Pikir yang Sangat Maju

Maret 02, 2017

Buah Pikir yang Sangat Maju
Oleh : Rizki 'detdickaydb' Ramadhan

Pujangga Baru pada mulanya hanyalah sebuah majalah bahasa dan sastra yang mulai diterbitkan pada bulan Juli 1933. Kemudian dipakai untuk menamai segolongan pujangga muda dengan sumbangan prosa dan puisi. Pelopor-pelopor diantaranya Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan Amir Hamzah merekalah penanda tangan manifest Pujangga Baru.[1] Segera majalah Pujangga Baru menjadi tempat berkumpul kaum budayawan, seniman, dan cendikiawan Indonesia pada masa itu.[2]
Dalam usaha mendirikan Pujangga Baru, besar jasa Armijn Pane. Dialah yang bekerja di belakang layar, mencari kontak dengan pengarang dan penyair di seluruh Indonesia serta orang yang berminat dan badan-badan, dengan menulisi mereka surat-surat edaran. Dan dialah pula yang mula-mula menjadi sekretaris Pujangga Baru, melakukan segala pekerjaan penerbitan Pujangga Baru.[3] Tapi yang memberi cap pada Pujangga Baru dan menjiwai Pujangga Baru dalam arti mengemukakan garis-garis besar cita-cita Pujangga Baru mengenai kesusastraan dan kebudayaan ialah Sutan Takdir Alisjahbana dengan karangan-karangan yang bertenaga menyeret dan mengembirakan.[4]
Sumbangan Pujangga Baru terhadap pemikiran kebudayaan Indonesia adalah diberikannya kesempatan pada sastrawan dan budayawan untuk menyalurkan pendapatnya sehingga menjadi polemik yang hebat dan meluas.[5] S. Takdir Alisjahbana dan Armijn  Pane di satu pihak dengan Sanusi Pane dan Amir Hamzah dilain pihak. Pihak pertama lebih menaruh perhatian ke ‘Barat’, sedang yang lain lebih mengarahkan perhatiannya ke ‘Timur’.[6]
Ini menjadi hal yang sangat disayangkan, karena para tokoh yang awalnya sama-sama membangun majalah Pujangga Baru. Kini mereka berperang melalui pikiran. Meskipun perselisihan di antara mereka sehat, tapi menggangu kelancaran di dalam internal pujangga baru itu sendiri. Sesungguhnya polemik ini dipicu oleh tulisan Sutan Takdir Alisjahbana, sastrawan yang juga intelektual, berjudul “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru Indonesia”.[7] Dalam tulisannya tersebut mengemukakan mengenai semangat Indonesia tidak seharusnya bertopang pada masa lampau. Kebudayaan Indonesia juga harus bebas dari masa silam. Kalau dipertegas pernyataan STA, seakan-akan dia melupakan budaya bangsa kita yang sudah ada sejak dahulu. Dia menginginkan bangsa Indonesia maju dengan pengaruh budaya Barat, bukan dari budaya asal Indonesia. Dia dengan tegasnya menyatakan bahwa Indonesia harus berorientasi ke Barat. Padahal kalau kita berorientasi ke Barat dengan meninggalkan budaya bangsa. Maka kebudayaan yang kita lestarikan sejak lama akan hilang begitu saja.
Tulisan STA ditentang oleh Sanusi Pane. Dalam tulisannya “Persatuan Indonesia”[8] Sanusi Pane tidak setuju dengan pernyataan STA yang menyatakan bahwa Indonesia harus membentuk budaya baru yang berasal dari Barat. Sedangkan SP berpendapat bahwa tidak mungkin bisa membentuk budaya baru tanpa adanya budaya yang lama. Budaya baru hadir karena adanya konsepsi budaya yang lama. SP menganggap STA salah dalam mengemukakan pendapat. “Dengan demikian, nyata kesalahan Tuan Sutan Takdir Alisjahbana dalam cara mengemukakan pendapat”.  Pada awalnya SP yang berorientasi ke Timur dan menganggap Timut lebih baik. Tetapi, pada akhir tulisannya ia berpendapat bahwa yang paling sempurna adalah menggabungkan antara Timur dan Barat. Sungguh sebuah sikap yang tidak konsisten yang dikemukakan SP.
Purbatjaraka pun dalam tulisannya “Sambungan Zaman”[9] mengemukakan hal yang menolak beberapa pernyataan STA. Purbatjaraka menganggap STA kadang-kadang meniadakan hubungan masa silam dengan masa sekarang. “Di dalam karangannya, Tuan Sutan Takdir Alisjahbana kadang-kadang meniadakan hubungan zaman masa silam dengan zaman sekarang ini.” Purbatjaraka juga mengungkapkan bahwa untuk melihat kebudayaan sekarang harus menengok kebudayaan masa silam. Kebudayaan yang baru itu hadir karena pengaruh kebudayaan masa silam. Bukan semata-mata hadir begitu saja.
Dalam polemik kedua ini, STA dalam tulisannya “Semboyan yang Tegas”[10] mengkritik prasaran yang terdapat di dalam Kongres Permusyawaratan Perguruan Indonesia. STA mengkritik mengenai bangsa Indonesia yang identik dengan semboyan ‘biar lambat asal selamat’, yang selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Terlebih lagi STA mengkritik beberapa tokoh yang ada dalam kongres tersebut seperti Drs. Sigit, Ki Hajar Dewantara, Dr. Sutomo, Sutopo Adiputra, dan Dr. Wediodiningrat. Menurutnya mereka telah menyebarkan paham anti-intelektualisme, anti-individualisme, anti-egoisme dan anti-materialisme. Mereka tidak mau paham barat memasuki pola pikir bangsa Indonesia. Bahkan, pesantren Ki Hajar Dewantara menjadi pusat pendidikan sebagai lawan sistem sekolah Barat.
Menurut STA, persoalan bangsa Indonesia bukan terletak pada paham-paham Barat. Tetapi, terletak pada kekalahan bangsa Indonesia berlomba dengan bangsa lain. Perlu kita sadari bahwa bangsa Indonesia yang dahulu belum merdeka, untuk berlomba dalam berbagai bidang pun sulit untuk kita menangkan. Meskipun ada rakyat Indonesia yang berguru dengan orang-orang pintar, berguru ke luar negeri. Tapi, mereka hanyalah minoritas belaka. Jangankan untuk sekolah, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja susah. Tidaklah mudah untuk bersaing atau berlomba dengan bangsa lain dalam waktu yang singkat.
Menanggapi pernyataan STA, R.Sutomo menyatakan pendapat bahwa dia tidak setuju dengan pendapat STA yang menyatakan dalam kongres tersebut tidak memihak ke Barat. R. Sutomo menekankan bahwa pendidikan Indonesia tidaklah harus sama dengan Barat, melainkan harus lebih baik dari Barat. Pendapat R.Sutomo merupakan sebuah pola pikir yang sangat maju. Kalau diperhatikan secara mendalam, maka tidaklah mudah untuk sejajar dengan bangsa Barat apalagi untuk menyainginya. Sedangkan bangsa Indonesia pada saat itu belum merdeka.
Banyak tokoh-tokoh Indonesia yang mengenyam pendidikan di Barat. Sehingga membuat keyakinan bahwa bangsa Indonesia pun sebenarnya bisa lebih maju dari Barat. Terlebih lagi R.Sutomo menyatakan sebuah konsep mengenai pondok pesantren. Dia menenkankan bahwa konsep pondok sangat berpengaruh terhadap anak Indonesia karena sesuai dengan warisan turun-temurun. Dengan semangat juangnya dia yakin bahwa konsep pondok dapat menyama ratakan dengan Barat atau bahkan dapat melebihi Barat.
Dalam polemik selanjutnya yakni polemik ketiga, STA memaparkan pendapatnya dalam tulisannya “Pekerjaan Pembangunan Bangsa sebagai Pekerjaan Pendidikan”.[11] Lagi-lagi STA membicarakan mengenai konsep pendidikan di Indonesia yang harus maju dan dinamis. Secara tersirat STA menyatakan “Siapa pun yang mau bergerak membangun bangsa dengan sungguh-sungguh, tentu akan mengakui bahwa kebesaran suatu bangsa tidak mungkin bertumpu pada dasar yang selemah dan serapuh itu”.[12] STA kembali meyindir secara halus bahwa jika Indonesia mau maju maka pendidikan Indonesia juga harus majau. Di sini ditekankan bahwa pendidikan yang harus maju bukan karena pendidikan Timur, tetapi haruslah memakai konsep pendidikan Barat.
Dengan cara pendidikan Baratlah Indonesia bisa menjadi bangsa yang maju. Begitulah ungkapan STA jika diperdalam lebih lanjut. Dia juga menyebutkan bahwa “pekerjaan membangun bangsa berarti pekerjaan membangun kebudayaan yang baru”.[13] Membangun kebudayaan baru dimaksudkan bahwa membangun kebudayaan Barat di Indonesia. Semakin sering memasukan budaya-budaya Barat di Indonesia maka akan semakin maju pemikirin rakyat Indonesia. Inilah hal selalu ditanamkan dalam benak STA. Dipikirannya hanyalah kebudayaan Barat yang mampu membangun bangsa Indonesia.
Kalau kita telaah lebih lanjut, maka haruslah sinkron antara kebudayaan Barat dengan kebudayaan bangsa Indonesia sendiri. Pemikiran STA memanglah sangat maju untuk peradaban Indonesia. Tapi harus diingat bahwa untuk membentuk budaya baru pasti berakar dari budaya yang lama. Tidak semerta-merta hadir yang baru, tapi harus adanya proses.
Karangan STA disambut oleh Dr. M. Amir dengan baik. Amir mengkritik STA dengan sopan mengenai budaya Barat yang harus bangsa Indonesia anut. Menurut Amir, jikalau kita memakai budaya Barat pun kita tidak akan sama dengan Barat. Jika diamati pendapatnya ini mengandung unsur bahwa setiap bangsa punya jati dirinya masing-masing. Tidak akan sama bangsa yang satu dengan bangsa yang lainnya. Meskipun bangsa tersebut meniru semirip mungkin. Karena pada dasarnya akar budaya sebuah bangsa berbeda satu dengan yang lainnya. Tidak akan sama persis bangsa yang satu dengan bangsa yang lainnya.
Dari tiga buah polemik kebudayaan yang diuraikan. Maka sungguh sangatlah besar pemikiran mereka terhadap bangsa ini. Pemikiran tentang Barat dan Timur. Tentang budaya Timur yang merupakan budaya nenek moyang kita. Sehingga tidak akan pernah bisa untuk dihilangkan. Pemikiran ini pun dari dulu hingga sekarang tidak akan tercapai. Karena sungguh bangsa Indonesia tidak akan terlepas dari pengaruh nenek moyangnya yaitu Hindu-Buddha maupun Islam. Jadi untuk menghilangkan budaya nenek moyang bangsa ini sungguhlah sulit.
Terlebih lagi pemikiran STA tentang pendidikan Barat di Indonesia. Pemikirannya pun membuat pembaca seakan-akan membayangkan suatu saat nanti Indonesia bisa sejajar dengan Barat. Apalagi dengan pemikiran R. Sutomo bahwa bangsa Indonesia bisa lebih baik dari Barat. Sekali lagi ini buah pikir yang luar biasa. Karena pada zaman itu belum merdeka, tetapi pemikiran tokoh-tokoh bangsa sudah sangat maju seperti ini. Ini menjadi tamparan di masa sekarang. Bahwa kita tidak boleh memikirkan nasib diri sendiri. Kita juga harus memikirkan kemajuan bangsa ini. Kalau bukan kita yang menjaga dan memajukan bangsa ini. Maka sungguh bangsa ini sedikit demi sedikit akanlah hancur.




Daftar Pustaka
Badudu, J.S. Sari Kesusastraan Indonesia Jilid 1. Bandung: Pustaka Prima. 1986
Erowati, Rosida dan Ahmad Bahtiar. Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah. 2011
Jassin, H.B.  Pujangga Baru: Puisi dan Prosa. Jakarta: CV Haji Masagung. 1987
K.S, Yudiono. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo. 2010
Mihardja, Achdiat K. Polemik Kebudayaan: Pergulatan Pemikiran Terbesar dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 2008
Mujianto, Yant & Amir Fuady. Kitab Sejarah Sastra Indonesia. Yogyakarta: Ombak. 2014
Rosidi, Ajip. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Jaya. 2013
Rosidi, Ajip. Masalah Angkatan dan Periodisasi Sedjarah Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Jaya. 1970



[1] J.S Badudu. Sari Kesusastraan Indonesia Jilid 1. (Bandung: Pustaka Prima) h.45
[2] Ajip Rosidi. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. (Bandung: Pustaka Jaya) h . 45
[3] H.B. Jassin. Pujangga Baru: Puisi dan Prosa. (Jakarta: CV Haji Masagung) h. 6
[4] Ibid. h. 7
[5] Rosida Erowati dan Ahmad Bahtiar. Sejarah Sastra Indonesia. (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah) h. 54
[6] Ajip Rosidi. Masalah Angkatan dan Periodisasi Sedjarah Sastra Indonesia. (Bandung: Pustaka Jaya)  h. 95
[7] Yant Mujianto & Amir Fuady. Kitab Sejarah Sastra Indonesia. (Yogyakarta: Ombak) h. 274-275
[8] Achdiat K. Mihardja. Polemik Kebudayaan: Pergulatan Pemikiran Terbesar dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka) h. 18
[9] Ibid, h. 33
[10] Ibid, h. 41
[11] Ibid, h. 177
[12] Ibid, h. 178
[13] Ibid, h. 181
Previous
Next Post »
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

Tidak ada komentar