OVER

Februari 28, 2017


OVER
Rizki Ramadhan*

MINGGU PAGI. MENTARI MENYINARI. BANGKU TAMAN. DI BANGKU DUDUK SEORANG PRIA CENGAR-CENGIR TANPA HENTI MEMBAWA RANSEL DENGAN ISI DI DALAMNYA. IA NAMPAK MENUNGGU  SESEORANG YANG SUDAH MEMBUAT JANJI DENGANNYA.

Seperti remaja-remaja zaman sekarang. Berpacaran giat aku lakukan. Seperti kakak-kakak ku yang terlebih dahulu melakukan. Aku pun ikut-ikutan. Seperti teman-temanku sekarang menjalin kisah bahagia dengan pasangan. Aku pun sama menunggu giliran tuk pacaran. Hingga sampai saat ini aku memiliki wanita yang kuidam-idamkan. Wanita yang saat ini kunantikan. Parasnya memang cantik namun tak menawan. Bibirnya tebal sampai membuatku terpukau. Sampai-sampai ku tak bisa meninggalkan.
Seperti sejatinya lelaki, aku menanti pujaan hati datang ke mari. Karena para lelaki diwajibkan oleh kebanyakan wanita untuk menunggu. Ya, menunggu wanita sampai wanita itu tiba. Menunggu ketika wanita mandi dengan waktu yang lama. Menunggu berdandan dengan make up yang berlebihan. Hingga menunggu memilih baju yang sesuai. Salah satu kewajiban lelaki ya menunggu dan menanti.
Ku tunggu dengan sabar. Meski terlalu lama dan tak kunjung datang. Aku nanti tanpa beban yang besar. Ku nikmati saja dan ku hayati. Meski pada nyatanya melelahkan. Aku tak pernah marah menunggunya. Aku hanya sedikit lelah. Tapi tak pantang tuk setia.
Seperti orang-orang lain yang berpacaran. Menunggu menjadi kebiasaan. Bahkan sesuatu hal yang wajar. Bukan hanya menunggu. Lelaki juga dihadapkan pada permasalahan selingkuh. Kebanyakan lelaki memanfaatkan wajah, uang, dan tahta untuk melakukannya. Bukan lagi tentang rasa yang berkurang. Melainkan tentang jiwa yang kurang diperhatikan. Kebanyakan wanita memang cemburuan. Bahkan terhadap orang yang tak mesti dicemburui. Kebanyakan wanita juga berlebihan. Sehingga mengganggu kebebasan para lelaki.
Setiap hari kekasihku tak pernah tak cemburu. Kesehariannya ya curiga. Curiga di mana dan kapan saja tentunya. Curiga dengan pesan yang ku kirim setiap hari tanpa diketahuinya. Curiga dengan siapa dan ke mana aku pergi. Curiga terhadap segalanya. Sehingga ia benar-benar begitu cemburu terhadapku. Sangkanya bukan sembarang sangka. Terkanya bukan sembarang terka. Terkadang dan sering kali mengada-ada.
Barangkali memang wanita ya seperti itu sifatnya. Terlalu pencemburu, terlalu curiga, terlalu mengada-ada. Bahkan sampai-sampai saatku berjalan dengan seorang wanita. Ya, wanita itu saudaraku. Saudara kandung tepatnya. Dia langsung cemburu tanpa basa-basi lagi. Padahal penjelasan sudah kuujarkan. Sudah sangat jelas ku jelaskan. Tapi apa mau dikata, sikapnyalah yang keterlaluan. Saking keterlaluannya, sampai-sampai dia mengirimkan pesan singkat ke saudaraku. Bagaimana ku tak geram? Kalau dibilang malu ya tentu saja.
Empat tahun lebih ku bersamanya. Menjalin asmara dengan berbagai masalah yang ada. Sikapnya yang pencemburu itu dahulu saat tahun pertama ya tak ada. Polos. Dahulu sangatlah polos. Tapi sekarang sifat dan sikapnya semakin berubah. Sikap cemburunya yang kurasakan semakin menjadi-jadi. Bukan lagi cemburu pada tempatnya. Ya cemburu sama saudaraku sendiri.
Sikap cemburunya kian berkembang semenjak aku dan dia menjadi mahasiswa. Ya, aku dan dia berbeda kampus. Intensitas bertemu pun sangatlah jarang sekali. Itulah salah satu hal yang membuat dia cemburu. Bahkan terhadap teman dekatku yang sangat ia cemburui. Aku pun sadar bahwa cemburu itu wajar. Tapi sangatlah tak masuk diakal jika dia cemburu dan tak memperbolehkanku walau hanya bertemu.
Aku masih ingat sekali saat pertama bertemu dengannya ketika di sekolahan. Wajah polosnya yang belum memahami lika-liku percintaan membuatku senang. Semua tingkahnya yang baik dan manis begitu indah jika mengingatnya. Senyum sapanya ke setiap orang, begitulah sikapnya dahulu. Ia masih baik sampai saat ini. Namun, hanya sikapnya yang cemburu dan berlebihan yang membuatku tak menyukainya.
Saat itu ketika ku bersamanya, berjalan berduaan. Dia diam dengan senyuman. Seolah baru mengenalku. Dia begitu santun. Begitu lembut dalam berbicara dan bersikap. Begitu indah tiap tutur katanya. Namun, itu dahulu sebelum sekarang dia dengan sikapnya yang seperti ini. Mungkin menurutnya sikapnya itu baik. Karena sikap tersebut menunjukan rasa kasih sayangnya. Tapi menurutku tidak, sikap tersebut justru malah membuatku tak nyaman. Meski sudah empat tahun menjalankan hubungan ini.
Sikap cemburunya pada setiap wanita yang dekat denganku membuatku tak nyaman. Bahkan sikap berlebihannya membuatku frustrasi. Bagaimana tidak, semua teman perempuanku yang berkomunikasi lewat pesan denganku ternyata diterornya. Dia dengan diam-diam meminjam handphone ku dan menyimpan nomer teman perempuanku ke dalam handphonenya. Aku murka dengan sikapnya. Tidak tanggung-tanggung, bukan satu atau dua orang yang dia kirimi pesan. Hampir semua yang berkomunikasi denganku lewat pesan dia hubungi.
Mau dikata apa? Aku tak bisa membendungnya. Toh, sudah terjadi. Aku pun tahu bukan darinya. Melainkan dari teman perempuanku yang cerita tentang hal itu. Aku malu dengan sikapnya. Mau taruh di mana mukaku? Setiap aku di kampus bertemu dengan temanku. Itu menjadi hal yang hangat untuk diperbincangkan. Aku bisa apa? Teman-temanku yang bercerita tak bisa aku hentikan. Aku hanya bisa tersenyum dan berkata; "ah iya, itu sudah biasa". Ku jawab saja dengan lantang meski malu kurasakan.
Aku sudah lelah menghadapinya. Namun, mau bagaimana jika hati sudah terikat olehnya. Cintaku dan cintanya menjadi satu dan sulit dilepaskan. Aku tak bisa terus-terusan seperti ini. Aku sudah nasihati dia. Aku sudah marahi dia. Tapi jawabannya selalu seperti itu. Dia selalu bilang kalau sikapnya semata-mata karna takut kehilanganku. Karna sesungguhnya rasa sayangnya kepadaku yang amat sulit untuk dibagi dengan lelaki lain. Aku paham dengan rasa yang ia miliki. Tapi aku tetap tak suka dengan sikapnya yang cemburuan dan berlebihan.
Ku pakai cara halus tak juga mempan. Aku paksa dia untuk meminta maaf kepada teman-temanku karena sudah membuat aku malu. Aku cuma ingin teman-temanku tahu bahwa dia telah salah mengirim pesan kepada teman-temanku. Setelah ku paksa dia tak juga mau. Aku bentak dia dengan keras; "cepat minta maaf kepada teman-temanku". Dia menangis dengan tersedu-sedu. Aku tak sanggup. Aku tak sanggup. Sejak pertama pacaran dengan dia aku tak bisa melihatnya menangis. Aku tak sanggup harus membentaknya lagi ketika dia dalam keadaan menangis. Aku lemah hati. Hatiku lembut ketika wanita menangis.
Aku pun kalah. Dia tetap tak mau meminta maaf kepada teman-temanku. Aku harus bagaimana lagi? Apa aku harus sudahi semua ini? Bukan hanya rasa sayangnya yang begitu banyak. Aku juga merasakannya. Rasa sayangkuh begitu besar kepadanya. Aku tak bisa seenaknya memutuskan hubunganku dengannya. Aku terus berpikir tanpa henti memikirkan hubungan ini kedepannya. Aku bimbang dikoyak kegelisahan antara sudahi atau melanjutkan.
Beberapa saat ku terdiam meratapi kehidupan ini. Ku temukan cara yang mungkin membuatnya sadar. Aku simpan handphone ku di dalam kamar selama tiga hari dalam keadaan mati. Setiap aku pergi ke suatu tempat tak ku bawa handphone ku. Setelah satu hari ku tak berkabar dengannya. Dia pun menanyakan kabarku lewat kakakku. Dia mengirim pesan kepada kakakku dan menanyakan kabarku. Tapi kakakku yang satu itu tidak satu rumah denganku. Rumah kakakku dengan ku memang cukup dekat, tidak sampai 20 meter. Namun, untuk mengetahui kabarku tentu kakakku harus ke rumahku. Sehingga aku merasa bahwa dia telah merepotkan kakaku. Ku bilang saja ke kakakku agar tak membalas pesan darinya.
Setelah beberapa hari aku tak ada kabar dan kakaku tak memberi jawaban kepadanya. Di hari ketiga ia datang ke rumahku. Datang ke rumahku memanglah wajar. Tapi ia datang pukul enam pagi di saat aku masih tertidur pulas. Tiba-tiba aku dibangunkan oleh ibuku. Aku mengintip dari jendela, tenyata dia. Aku kaget dan langsung mencuci muka dengan air. Aku temui ia di teras rumahku. Lalu aku ajak ia pergi ke taman dekat rumahku. Setelah duduk di taman. Dia langsung menangis. Dia ingin agar diperhatikan kembali dan dibalas pesannya. Akhirnya aku iyakan keinginannya. Meski aku mengiyakan keinginannya. Tapi aku masih tak bisa terima sikapnya yang cemburu dan berlebihan.
Dua hari setelah pertemuanku dengannya. Kecemburuan itu muncul lagi. Di media sosial dia juga berteman dengan teman-temanku. Salah satu akun temanku membagikan fotoku dengan wanita lain. Aku pun biasa aja menanggapinya. Toh, itu juga hanya foto bukan perselingkuhan. Namun, dia datang ke kampusku dengan amarahnya. Pada saat itu aku pun berada di kampus. Kebetulan sekali aku sedang bersama seorang wanita yang juga ada difoto yang membuat dia marah. Aku, dia, dan temanku bertemu dalam satu ruang. Dia datang dengan murka. Dia memarahiku; "Apa-apaan ini? Siapa orang yang difoto ini?", sambil menunjukan handphonenya. Lalu dia melihat ke sampingku. Saat itu pula ia makin bengis; "oh jadi ini orang yang ada di foto, ada hubungan apa sama dia?", sambil menunjuk temanku.
Aku hanya bisa menenangkannya. Tapi apa daya, dia tetap marah dan membentak teman wanitaku. Aku tak kuat dengan beban yang kupikul selama ini. Akhirnya ku putuskan untuk mengakhiri hubungan ini. Aku ucapkan; "sikap kamu terus-terusan begini, aku tak sanggup. Aku mau kita putus. Aku akhiri hubungan ini. Silakan kamu pergi dari kehidupanku. Dia pun pergi dengan tangisan di wajahnya. Tentu pula dengan amarah yang dipendamnya. Ku amati dari kejauhan kepergiannya yang sebenarnya tak begitu kuinginkan. Dengan kencang dia mengendarai motor. Dengan ketidakstabilan perasaan dan raganya. Aku semakin khawatir.

DI DEPAN GERBANG KAMPUS. DI JALAN RAYA TEPATNYA. KEBISINGAN MAKIN MENGERAS. ORANG-ORANG BERKUMPUL DI TENGAH JALAN. MELIHAT ADA SESUATU HAL YANG TERJADI.
WANITA YANG TADI PERGI DENGAN AMARAH DAN TANGISAN. KINI MENJADI PUSAT PERHATIAN. BUKAN KARENA AMARAH DAN TANGISAN. BUKAN PULA KARENA KECANTIKANNYA. MELAINKAN KARENA KECELAKAAN YANG MENIMPANYA DI JALAN RAYA. LALU LELAKI MENGHAMPIRI KERAMAIAN TERSEBUT.

Astagfirullah al-adzim, ya Allah. Maafkan aku kekasihku, aku yang telah membuat kamu menjadi seperti ini. Ini bukan keinginanku. Tak ada niat untuk membuatmu menjadi seperti ini. Maafkan aku. Ya Allah, selamatkanlah kekasihku. Jangan pisahkan aku dengannya. Sungguh perkataan yang tadi adalah kekhilafanku.

WANITA TERSEBUT DIBAWA KE RUMAH SAKIT TERDEKAT. LELAKI ITU PUN MENGIKUTI. TERNYATA LUKA YANG DIDERITA WANITA ITU SANGATLAH PARAH. DARAH TERUS KELUAR DARI BAGIAN TUBUHNYA. HELM YANG WANITA ITU PAKAI TERBELAH MENJADI DUA BAGIAN. KABAR DUKA PUN DATANG. WANITA TERSEBUT MENINGGAL DUNIA. LELAKI ITU HANYA BISA PASRAH MENGHADAPI KEADAAN INI. DAN DIAM MENYESALI PERKATAANNYA TADI.
JAKARTA-CIPUTAT, 6-1-17

-
-
*Penulis adalah Pimpinan Komunitas LORONG dan Pimpinan Redaksi Dewantara Institut
Previous
Next Post »
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

1 komentar

Terima kasih HMJ PBSI :)

Balas